Jumat, 25 Maret 2011

Untuk Negeriku

Akhir-akhir ini keresahan di bidang sosial-politik, termasuk yang berbuntut kekerasan, membuat masyarakat bingung dan cemas. Para tokoh pilihan rakyat, yang dianggap mampu menyejahterakan rakyat, mudah menjadi sasaran kekecewaan atau bahkan kemarahan. Mungkin karena dalam hubungan negara dan rakyat, ada ketimpangan antara falsafah dan realitas, antara teori dan aplikasi, antara kata dan perbuatan. Kita belum juga belajar dari sejarah, yang tampaknya memang bukan tradisi kita. Banyak peristiwa tidak nyaman terulang berkali-kali. 

Dalam situasi seperti ini, keputusan menerbitkan kembali autobiografi Mohammad Hatta tepat waktu. Buku setebal 805 halaman yang aslinya berjudul Mohammad Hatta: Memoir (1979), tahun ini terbit kembali dengan judul baru Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (Kompas, 2011). Terbitan baru itu terdiri dari tiga jilid, setiap jilid mencerminkan pengembangan Bung Hatta pada tahap-tahap berbeda: dari masa kecil sampai akhirnya menjadi sang proklamator yang mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan. 

Bagi yang pernah mengalami derita maupun dinamika serta romantika perjuangan masa revolusi, membacaUntuk Negeriku ibarat memutar film lama; suasana masa lalu menggetarkan hati dan ingatan akan penggalan-penggalan pengalaman pribadi yang merupakan bagian dari skenario besar masa revolusi. Bagi yang lahir sesudah masa revolusi, banyak pelajaran yang bisa dipetik, khususnya pelajaran tentang semangat kebangsaan dan bagaimana menyusun cita-cita dan menyiapkan diri bagi masa depan bangsa. Kepentingan pribadi dinomorduakan. Situasi tersebut berkebalikan dari yang ada sekarang: individualisme dan materialisme yang mengiringi perkembangan zaman terbukti menghambat langkah-langkah mengejar mimpi para bapak bangsa. 

Pemikir filosofis 

Apa yang istimewa tentang Bung Hatta? Dia tidak tampil flamboyan yang mampu menggebrak semangat orang seperti Bung Karno. Menurut teman-temannya, dia amat serius. Kekuatannya bukan pada penampilan dan tutur kata yang memikat, melainkan pada tulisan-tulisannya yang menunjukkan ketelitian pengamatan, renungan, ramalan, dan intelektualitasnya. "Dia tokoh intelektual yang menyuarakan keprihatinan ideologis dan filosofis," kata Dr Taufik Abdullah dalam kata pengantar Untuk Negeriku. 

Boleh dipastikan, sepanjang sejarah republik sejauh ini, dialah satu-satunya dari sedikit negarawan yang penulis. Karya-karya tulisnya, yang mencerminkan kecerdasan pikiran, yang terbit dalam bentuk artikel dan buku, jumlahnya ratusan; termasuk yang tersebar di sejumlah perpustakaan di Amerika dan di Leiden, Belanda. 

Dari autobiografinya, pembaca antara lain akan mendapat gambaran tentang ideologi dan filosofinya yang dijalin dalam rangkaian kisah hidup yang cermat. Dia mengemukakan pandangan dan ramalan yang dirasanya mampu mendorong semangat suatu masyarakat yang sedang mekar menjadi bangsa, bebas dari penjajahan bentuk apa pun. Persemaian ideologinya sudah dimulai sejak kanak-kanak usia enam tahun di kampung kelahirannya, ketika dia mengalami masa pemberontakan rakyat di Kamang, Sumatra Barat, yang langsung dirasakan keluarganya. Benih-benih ideologi yang ada pada dirinya tampaknya berangsur tumbuh melewati pendidikan formal di Bukkittinggi-Padang-Betawi dan semakin matang ketika menjadi mahasiswa di Belanda selama 11 tahun. 

Pematangan itu antara lain berkat diskusi-diskusinya dengan sesama aktivis mahasiswa dari Tanah Air. Juga karena dia banyak membaca karya-karya para pemikir Barat, dari yang kuno sampai yang kontemporer. Untuk mendukung pemikiran-pemikirannya, misalnya, dia antara lain menyebut filsuf Yunani Heraclitus (536-470 SM) dan para filsuf modern Hegel dan Marx dari Jerman. Pada pidato pelantikannya sebagai ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda, dia mengutip dalil Heraclitus yang intinya menyatakan bahwa segala yang hidup adalah hasil pertentangan--ada yang menarik, ada yang menolak. Menurut Hatta, pertentangan yang dimaksud Heraclitus, yang mengandung makna perjuangan, adalah sebab pembentukan negara dan juga sebab pecahnya negara-negara besar menjadi negara-negara kecil yang berdaulat; dan yang tidak kalah penting: sebab dari penundukan negara yang satu oleh negara yang lain. 

Hukum pertentangan itu pula yang mendasari hubungan antara yang menjajah dan yang dijajah. Kata Hatta, pertentangan menjadi lebih tajam lagi karena yang dipertentangkan adalah keperluan hidup dua pihak yang bersangkutan. Dalam situasi itu, hanya ada satu jalan untuk bisa lepas dari penjajahan, yaitu menempuh jalan memerdekakan diri dengan 'paksa'. Jalan itu harus dilalui siapa pun yang ingin merdeka. 

Pendapat itu dilatarbelakangi fakta bahwa sejak 1880, industrialisasi Eropa menimbulkan masalah baru dan keperluan baru. Hasil pertama industrialisasi telah sangat meningkatkan penduduk Eropa yang menjadi dua kali lipat dalam waktu kurang dari setengah abad. Akibatnya, untuk memenuhi keperluan hidup, Eropa mengandalkan sumber-sumber dari negara-negara jajahannya. Itulah posisi hubungan Indonesia-Belanda waktu itu. Bung Hatta dan organisasi Perhimpunan Indonesia rajin mempropagandakan Indonesia dan kepentingan politiknya. 

Belajar dari sejarah 

Untuk Negeriku menyiratkan pentingnya belajar dari sejarah. Seperti dikatakan Bung Hatta, sejarah dunia membuktikan bahwa pekerjaan pemimpin hanyalah memberikan jalan dan menyalurkan apa yang ada dalam hati rakyat. Kita ambil contoh Rusia sebelum perang besar, Italia sebelum dia bersatu dan merdeka; dan sejarah Indonesia sendiri. Inilah romantisme pergerakan kemerdekaan. 

Dalam kaitan gangguan atas kerukunan umat beragama yang sedang marak sekarang, tentu kita bertanya-tanya apa kira-kira pemikiran Bung Hatta? Jawabannya tersirat dalam kolom Deliar Noer di seri buku Tempotentang para bapak bangsa. "Ia (Hatta) tidak keras membela Islam, tetapi semua tindak-tanduk dan tingkah lakunya, termasuk secara pribadi, dan dalam berjuang dan mengemukakan cita-cita (politik, ekonomi, sosial), ia selaraskan dengan tuntutan Islam." Deliar menambahkan, bagi Hatta, Islam otomatis berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan negara. Seorang muslim harus mengikuti 'suruhan dan larangan' agama--menyuruh yang baik, melarang yang tidak baik dalam hidup. Dalam hal iman (kepercayaan), Hatta praktis tidak berteori. 

Adnan Buyung Nasution pernah mengatakan: Hatta menyelesaikan konflik ideologis akibat penempatan Piagam Jakarta dalam rancangan UUD 1945. Pertimbangan objektifnya, penempatan itu bersifat diskriminatif terhadap golongan minoritas. 

Banyak lagi gagasan dan falsafah yang disampaikan Untuk Negeriku. Buku ini perlu dibaca kalangan yang meminati bidang politik dan kemanusiaan. Tujuannya, menurut Meutia Hatta Swasono dalam kata pengantar: agar pembaca, terutama yang lahir sesudah Bung Hatta wafat (1980), dapat mengenal sosok, prinsip hidup, dan keteguhannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Oleh Toeti Adhitama 
Anggota Dewan Redaksi Media Group
Media Indonesia, edisi Jumat, 25 Maret 2011



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberi komentar