Sabtu, 22 Oktober 2011

Puskesmas Apung, Solusi Layanan Kesehatan di Kutai Barat


Berada di pedalaman dan jauh dari jangkauan transportasi tak serta merta membuat masyarakat di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kehilangan akses layanan kesehatan. Keadaan geografis yang sebagian besar berupa hutan dan lahan gambut, membuat pemerintah kabupaten setempat menciptakan sebuah inovasi baru yakni Puskesmas Apung.
 Inovasi pelayanan kesehatan ini sengaja dibuat untuk menjangkau masyarakat yang memang sebagian besar tinggal di pesisir Sungai Mahakam. Maklumlah, jalur transportasi darat di sana masih sangat terbatas karena keadaan medan yang tidak memungkinkan.
Di sisi lain, masyarakat lebih memilih jalur sungai sebagai transportasi. Sehingga tidak heran jika sebaran penduduk lebih banyak berada di daerah aliran sungai.
Terciptanya Puskesmas apung tidak lain adalah berkat campur tangan Ismael Thomas, Bupati Kutai Barat. Ide tersebut muncul pada awal pemerintahannya tahun 2006 dan terealisasi pada tahun 2008, dengan biaya sebesar Rp. 1,2 milyar untuk pengadaan kapal, dan Rp. 1 milyar untuk peralatan medis.
Menurut Ismael, tujuan utama pembuatan Puskesmas apung adalah untuk mendekatkan masyarakat di daerah aliran sungai Mahakam dan anak sungainya pada pelayanan kesehatan yang memadai.
"Kami menginginkan supaya pelayanan kesehatan ini betul-betul menyentuh ke masyarakat banyak, dan kita melayani masyarakat dengan menjemput bola. Oleh karena itu dibangunlah Puskesmas terapung, yang tujuannya melayani masyarakat yang ada di bantaran sungai," katanya  di sela-sela acara Dokumentasi Film Singkat Tentang Rumah Sakit Bergerak di Kutai Barat, yang ditayangkan Pusat Komunikasi Publik (Puskom) Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (21/10/2011).
Terbatasnya akses transportasi darat, membuat banyak masyarakat Kutai Barat kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan di Puskesmas pembantu (Pustu) terdekat, Puskesmas Kecamatan apalagi rumah sakit kabupaten. Selain waktu tempuh yang lama, biaya transportasi yang besar, kadang membuat masyarakat lebih memilih pengobatan alternatif pada dukun setempat atau bahkan tidak diobati sama sekali
"Di Puskesmas induk dan beberapa memang memiliki Puskesmas pembantu, tapi jaraknya jauh. Jadi, walaupun ada Pustu yang membawahi dua tiga kampung tetapi akan sangat terbatas. Karena dari kampung A dan B bisa 2-3 jam perjalanan. Sehingga dengan adanya kapal ini sangat membantu," sambung Zulkarnain, Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat.
Letak Kabupaten Kutai Barat berbatasan langsung dengan Malaysia dengan jumlah penduduk sebanyak 166 ribu jiwa. Dari 21 kecamatan yang ada, 19 di antaranya tinggal di sungai Mahakam maupun anak sungai. Jumlah total keseluruhan Puskesmas ada 24 termasuk didalamnya Puskesmas apung.
Untuk masyarakat pesisir, terutama daerah hilir, yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan sering mengonsumsi ikan asin, masalah kesehatan yang sering dijumpai adalah hipertensi dan Maag. Di samping juga penyakit-penyakit infeksi tenggorokan.
Tapi kini, dengan beroperasinya Puskesmas apung, masyarakat daerah sungai mahakam bisa mendapat layanan kesehatan yang lebih baik, mulai dari kesehatan umum, gigi, ibu dan anak sampai keluarga berencana.
Dari segi pelayanan, Puskesmas apung tidak kalah dengan Puskesmas di darat. Pasalnya, di sana juga sudah tersedia peralatan bedah minor, yang bisa melayani khitan serta peralatan rontgen portable. Didukung para tenaga medis dengan 2 dokter umum, 1 dokter gigi, 1 bidan, 4 perawat, dan sejumlah ahli kesehatan masyarakat.
Dalam kurun waktu sebulan, Puskesmas apung berlayar selama 20-24 hari tergantung kondisi cuaca. Menjaring rata-rata 1200 pasien dari 50 kampung di daerah aliran sungai Mahakam yang dilalui.
Setiap tahun, Kabupaten Kutai Barat mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,7 milyar pertahun untuk operasional Puskesmas apung. Bahkan menurut rencana, pemerintah Kabupaten Kutai Barat akan menambah 2 (dua) armada Puskesmas apung agar frekusensi pengobatan bisa ditingkatkan
"Dua unit ini akan saling mengisi, sehingga diharapkan frekuensi pelayanan akan lebih meningkat. Dan kualitas pelayanan terhadap masarakat bisa ditingkatkan. Selain melayani kuratif diharapkan ke depan juga mengarah ke preventif. Misalnya dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan ke masyarakat," terangnya.-KOMPAS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberi komentar