Kamis, 12 Juli 2012

Foto Eksekusi oleh Tentara Belanda Diduga Peristiwa Westerling di Sulsel

Foto buah tangan seorang bekas tentara Belanda dari Kota Enschede, Jacobus R, mengejutkan kalangan peneliti sejarah militer Belanda. Sejarawan Indonesia, Anhar Gonggong, meyakini foto yang menampilkan eksekusi warga Indonesia oleh tentara Belanda itu menggambarkan kekejaman Westerling di Sulawesi Selatan yang terjadi antara Desember 1946 hingga Maret 1947.

"Pembantaian yang dilakukan tentara Belanda yang terbesar itu dilakukan pada tahun 1946, yaitu ketika Belanda meledakkan kereta api di Kerobokan, Jawa Tengah, dan pembantaian yang dilakukan Kapten Westerling antara tahun 1946-1947 di Sulawesi Selatan," kata Anhar saat berbincang dengan detikcom, Rabu (11/7/2012).

Dalam peristiwa peledakan kereta api, sedikitnya 200 jiwa melayang. Sementara dalam tragedi di Sulawesi Selatan di mana tentara Belanda berupaya membuat teror pada masyarakat yang menentang pendirian Indonesia Timur, sebanyak 10 ribu orang lebih tewas dibantai. Meski di tahun 1946-1950 Belanda melakukan kejahatan HAM hampir di seluruh wilayah Indonesia.

"Dan Westerling mengakui itu dalam catatannya. Dia membunuh sekitar 2 ribu orang dan dia sendiri mengakui menembak 600 orang, namun hanya catatan saja dan tidak ada bukti visual yang menguatkan catatan tersebut," jelas Anhar.

Kejahatan yang dilakukan Westerling itu adalah dengan cara membawa pasukan dari desa ke desa dengan berjalan kaki, dari Sulawesi bagian selatan ke Sulawesi bagian utara (sekarang Sulselbar). Di tiap desa yang disinggahi, pasukan Westerling mengumpulkan setiap warga.

"Mereka diminta untuk menggali sendiri lubang dan kemudian ditanyai di mana pemimpin pasukan pemberontak. Bila tidak dijawab maka mereka akan ditembak dan masuk ke lubang yang telah digalinya itu," kata Anhar.

"Oleh karena itu, bila foto yang demikian itu menggambarkan seperti itu, bisa jadi itu adalah kejahatan yang dilakukan Belanda di Sulawesi Selatan," imbuhnya.

Meski itu termasuk pada kejahatan HAM, namum pemerintah Indonesia tidak dapat berbuat banyak, sama halnya seperti tragedi Rawagede. Anhar menjelaskan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1950, akan membuat pengadilan Belanda memberikan pertimbangan bila peristiwa yang terjadi tahun 1945-1950 tersebut terjadi di dalam wilayah Kerajaan Belanda.

"Akibatnya masyarakat hanya akan mendapatkan kompensasi saja," ujar Anhar seraya menambahkan hingga saat ini Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1950.

Temuan foto tersebut, imbuh Anhar, diharapkan dapat menjadi bukti otentik terkait aksi pelanggaran HAM yang dilakukan Belanda kepada warga Indonesia. Anhar sendiri sudah dihubungi oleh peneliti dari Belanda untuk membicarakan foto yang saat ini menjadi perbincangan di kalangan ahli sejarah di Belanda.

Sebelumnya diberitakan, untuk pertama kali dalam sejarah muncul foto-foto eksekusi yang dilakukan oleh militer Belanda selama tindakan agresi di Indonesia. Foto-foto tersebut berasal dari album pribadi Jacobus R. yang merupakan seorang prajurit Belanda.

Dalam foto itu terlihat likuidasi tiga orang Indonesia. Mereka berdiri membelakangi peleton tembak di tepi sebuah parit pada saat mereka mulai ditembaki. Dengan kata lain mereka ditembak mati dari arah belakang.

Parit tersebut, seperti terlihat pada foto kedua, penuh dengan mayat orang-orang Indonesia yang telah lebih dulu dieksekusi. Sementara di tepi parit berdiri dua tentara Belanda, dikenali dari seragam mereka.

Para ahli dari Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie/NIOD (Lembaga Dokumentasi Sejarah Belanda) dan Nederlandse Instituut voor Militaire Historie/NIMH (Lembaga Sejarah Militer Belanda) mengatakan bahwa foto-foto tersebut belum pernah terlihat sebelumnya.

"Itu bukan foto-foto biasa dan pastinya tidak setiap tentara Belanda membawa pulang foto-foto seperti ini ke rumah," ujar pegawai NIMH kepada De Volkskrant (10/7/2012).

Demikian juga pada NIOD foto-foto sejenis itu belum pernah ada. "Kami mempunyai banyak album di sini. Kami menunggu suatu saat muncul foto-foto seperti itu dan inilah saatnya. Saya sendiri sebelumnya belum pernah melihatnya," cetus Rene Kok, peneliti foto pada NIOD. - Detik




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberi komentar