Rabu, 27 Februari 2013

RI Mau Lunasi Utang? Tiap Orang Harus Sumbang Rp7,616 T

Utang Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bahkan, pada tahun ini, utang Indonesia hampir menembus Rp2 ribu triliun. Jika utang tersebut dibebankan ke masyarakat, berapa kocek yang harus dirogoh masyarakat untuk melunasi utang negeri tercinta ini?

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah per 31 Januari mengalami peningkatan. Kenaikan utang Indonesia naik menjadi Rp4,33 triliun.

Dalam data yang diterbitkan DJPU tersebut, utang pemerintah naik ke Rp1.979,75 triliun pada Januari 2013, dari Rp1.975,42 triliun pada akhir 2012. Dalam lima tahun belakangan, utang pemerintah telah meningkat Rp343,01 triliun.

Sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) disebutkan, jumlah penduduk Indonesia per Januari 2011 sekira 259,940 juta.

Artinya, jika total utang Indonesia sebesar Rp1.979,75 triliun dibebankan pada 259,940 juta, maka setiap kepala harus menyumbangkan uang sekira Rp7,616 triliun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pendapatan per kapita Indonesia pada 2012 sebesar USD3.660 jika dengan kurs Rp9.705 per USD, maka rata-rata pendapatan per kapita Indonesia pada 2012 mencapai Rp35,520 juta.

Dengan demikian, dibutuhkan waktu sekira 215 tahun bagi masyarakat Indonesia untuk mencapai angka Rp7,616 triliun. Perhitungan ini hanya untuk utang pokok saja, belum ditambahkan bunga.

Wajar saja jika pemerintah akhirnya mengatakan Indonesia sulit untuk lepas dari jeratan utang. Rahmat Waluyanto, yang kala itu masih menjabat sebagai Dirjen DJPU menjelaskan, pinjaman luar negeri tersebut tidak akan pernah hilang karena seringkali sebuah insitusi memberikan pinjaman kepada Indonesia selalu disertai dengan technical assistence dan itu sangat berguna bagi Indonesia.

"Untuk pinjaman luar negeri, itu tergantung kebijakan pemerintah. Saya memperkirakan tidak akan hilang sama sekali, karena World Bank, ADB, IDB, mereka berikan pinjaman tapi dapat technical assistence untuk tangani isu-isu tertentu. Jadi memang kita sulit bebas dari utang," kata Rahmat. (mrt) - Okezone




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberi komentar