Jumat, 13 September 2013

KPK Belum Jadwalkan Periksa Sekjen ESDM

KPK mendalami kasus suap PT Kernel Oil kepada Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini (RR). Kemarin, giliran Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas
Johanes Widjonarko yang digarap penyidik.

Selain Johanes, KPK juga memeriksa dua pegawai SKK Migas, yakni Gerhard Marten Rumeser dan Tri Kusuma Lidya sebagai saksi.

Johanes tiba di Gedung KPK Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan sekitar pukul 9.15 pagi. Mengenakan batik warna putih kombinasi perak, bekas Wakil Kepala SKK Migas ini bergegas masuk begitu turun dari mobil. Johanes diperiksa sebagai saksi bagi tersangka Rudi Rubiandini. “Diperiksa untuk Pak Rudi. Nanti saja ya,” kata Johanes, singkat.

Ditanya soal suap yang melibatkan bekas bosnya, Johanes bungkam. Johanes kini merupakan orang nomor satu di SKK Migas. Dia diangkat menjadi Plt Kepala SKK Migas sehari setelah KPK menangkap Rudi. Pemeriksaan Johanes terkait dengan jabatannya saat menjabat Wakil Kepala SKK Migas. Dia dianggap mengetahui mengenai kasus suap kepada Rudi dari PT Kernel Oil.

Setengah jam kemudian, giliran Gerhard Marten yang menyusul Johanes. Dengan batik lengan panjang warna coklat, Gerhad menolak memberikan komentar. Selepas adzan Maghrib, Gerhard keluar didampingi seorang stafnya. Ia mengaku dicecar 15 pertanyaan oleh penyidik. Disinggung soal materi pemeriksaannya, Gerhad tak mau memaparkan.

“Pertanyaannya sama saja dengan yang lain. Kalau mau rinci, tanya saja sama yang memeriksa,” ujarnya. Sedangkan Johanes masih di ruang pemeriksaan sampai pukul 8 malam.

Sehari sebelumnya, KPK memeriksa Kepala Divisi Komersial SKK Migas Popi Ahmad Nafis, Deputi Pengendalian Komersil Widyawan Wiraatmaja dan Divisi Monitoring Plan of Development Gunawan Stardiwirya.

Juru Bicara KPK Johan Budi menepis anggapan bahwa kasus SKK Migas mentok di tersangka Rudi Rubiandini. Kata Johan, pihaknya masih mengembangkan kepada penerima suap maupun ke pemberi suap. “Terlalu dini jika penyidikan kasus ini disebut mentok,” kata Johan.

Ia menjelaskan, penyidikan kasus ini terus berjalan. Hal itu dibuktikan dengan pemeriksaan sejumlah saksi yang terus dilakukan. Bahkan, para pejabat SKK Migas juga turut diperiksa untuk dimintai keterangannya. “Semua dalam proses dan semua sedang didalami,” ucapnya.

Johan menjelaskan, semua pihak yang dianggap mengetahui kasus ini akan dimintai keterangannya oleh penyidik. Termasuk Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Waryono Karno. Namun, lanjut Johan, KPK belum mengetahui keberadaan Waryono. “Karena kami belum melakukan panggilan,” ucapnya.

Sebagai langkah berjaga-jaga, kata Johan, KPK sudah mengeluarkan surat permintaan cegah ke luar negeri kepada Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM terhadap Waryono Karno.

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas menegaskan, KPK tidak takut kehilangan jejak tersangka atau saksi kasus korupsi apapun.

“Yang takut, mereka yang mau menghilang,” ujar Busyro di kantornya, kemarin.
Humas Kementerian ESDM Susianto membantah kabar bahwa Waryono sedang berada di luar negeri atau berobat di Singapura. Kata dia, sampai kemarin, Waryono masuk kerja. “Memang beberapa hari lalu sempat cuti dua hari, tapi sekarang sudah masuk lagi. Tadi ikut rapat kok,” kata Susianto saat dihubungi, tadi malam.

KPK mengembangkan kasus suap Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini ke arah Kementerian ESDM. Kamis (15/8), penyidik KPK menggeledah ruang kerja Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karyo. Di ruang kerja Waryono, KPK menyita uang 200 ribu dolar Amerika Serikat, atau senilai Rp 2 miliar.

Sebanyak 10 personel KPK menggeledah kantor kementerian yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan itu sejak pukul 10 pagi. “Ada beberapa temuan, selain dokumen, penyidik juga menemukan uang 200 ribu dolar AS di Ruang Sekjen ESDM,” kata Johan.

Reaksi Waryono Karyo seperti bingung saat mendengar ruang kerjanya digeledah. “Saya baru tahu dan kaget dengarnya,” kata Waryono di kantor Kementerian ESDM.
Waryono, saat itu mengaku belum mengerti alasan penggeledahan kantornya. Ia juga mengaku tak mengerti hubungan kantornya dengan kasus yang menimpa Rudi Rubiandini. “Memang ada penggeledahan, tapi dasarnya apa?” tanyanya.

Ditanya soal Kernel Oil dan kemungkinan keterkaitan dalam kasus Rudi, Waryono menjawab sambil istigfar,“Ya Allah Ya Robbi, enggak ada itu, demi Allah, demi Allah, astaghfirullah.”

Dia menyatakan bersih dari kasus Rudi. “Nggak mungkin itu,” tandas Waryono lantas buru-buru pergi.

Kasus suap SKK Migas terungkap setelah KPK menangkap Rudi Rubiandini, Selasa 13 Agustus lalu. Dia diduga menerima suap dari Manager PT Kernel Oil Simon Gunawan Tanjaya melalui seorang kurir bernama Deviardi alias Ardi. Ardi juga merupakan pelatih golf Rudi. Rudi, Simon, dan Ardi kini berstatus tersangka dan ditahan di Rutan KPK.

Sebagai langkah penyidikan kasus ini, KPK sudah mengajukan cegah ke luar negeri terhadap enam orang. Mereka adalah Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno, Kadiv Komersil Minyak SKK Migas Agus Sapto Rahardjo, Kadiv Penunjang Operasi SKK Migas Iwan Ratman, dan Kadiv Komersialisasi Gas Bidang Pengendalian Komersil SKK Migas Popi Ahmad Nafis. Dari swasta adalah Presiden Direktur PT Parna Raya Group Artha Meris Simbolon dan Febri Setiadi.

Menduga Ada Pihak Lain Yang Terlibat
Boyamin Saiman, Koordinator MAKI

Koordinator LSM Masyarakat Antikorupsi (MAKI) Boyamin Saiman menduga, masih ada pihak lain yang terlibat dalam kasus suap di SKK Migas.

Karena itu, Boyamin meminta KPK terus mengembangkan kasus penyuapan kepada Kepala SKK Migas non-aktif Rudi Rubiandini.

“Semua yang mungkin ditelusuri harus ditindaklanjuti. Termasuk dugaan adanya pihak asing dalam kasus itu,” kata Boyamin, kemarin.

Boyamin menilai, korupsi di sektor minyak dan gas sudah sangat menggurita dan sudah menjadi rahasia umum. Ia berharap, terbongkarnya kasus suap Rudi dari PT Kernel Oil bisa membongkar kasus-kasus lain yang lebih besar. “Ini langkah awal untuk membongkar mafia di sektor ini,” tandasnya.

Hal lain yang patut dicermati, lanjutnya, yakni ditemukan uang senilai 200 ribu dolar AS di ruang kerja Sekjen Kementerian ESDM. KPK menganggap nomor seri uang pecahan 100 dolar AS itu berurutan dengan uang dolar AS yang ada di rumah Rudi Rubiandini.

Dengan menelusuri jejak uang tersebut, tambah Boyamin, KPK bisa saja mengungkap pelaku lain.

“Telusuri uang itu milik siapa, dari mana. Apakah benar uang operasional kementerian atau apakah ada suap. Dari sana KPK bisa mendapatkan fakta yang lebih jelas dalam kasus ini,” kata Boyamin.-RMOL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberi komentar